Kedatangan berbagai alutsista canggih yang mengisi berbagai pangkalan TNI AU seperti Sukhoi 27SK/30, Super Tucano, dan terakhir T-50i Golden Eagle tak pelak melegakan karena kekuatan TNI khususnya TNI AU semakin memenuhi MEF I. Akan tetapi, bangkitnya kekuatan sang Swa Bhuana Paksa juga membawa tantangan tersendiri. Sehebat-hebatnya pesawat tempur bermanuver dan memenangkan superioritas udara, posisinya sangat rentan di darat dari serangan dadakan pesawat lawan atau bahkan rudal jelajah. Apalagi sebagian besar shelter dan hangar skadron di seluruh tanah air belum mengadopsi desain konstruksi tahan bom atau serangan udara lainnya.
Sementara
kekuatan pertahanan Lanud TNI AU terbatas pada sejumlah Triple Gun dan rudal
panggul QW-3 yang berjarak sangat pendek. Memang pada saat Marsma (Pur) Nanok
Soeratno menjadi Dankorphaskas, Triple Gun sempat dimodifikasi dengan dipasang
pada sasis truk Reo, tetapi tetap saja tidak akan efektif digunakan menyasar
musuh yang terbang dengan kecepatan tinggi. Apalagi senjata udara-darat saat
ini sudah dilepaskan dari titik yang jauh (stand off weapon), sehingga pesawat
pembawa belum terlihat, rudalnya sudah sampai di tujuan. Sudah jelas, selain
membangun kekuatan udara sebagai hak dan kewajiban asasi TNI AU, soal
pertahanan fasilitas-fasilitasnya pun juga harus turut dipikirkan.
![]() |
| Triple Gun pada Sasis Truk Reo |
